What's Up!!!

@miniblora

Fatih pengen jadi imam

anak kecil jadi imam

anak kecil jadi imam

Masih teringat bukan, salah satu masjid di Jawa Timur pernah melarang anak di bawah 7 tahun masuk masjid? Alasannya mungkin saja agar mereka tak mengganggu jamaah ketika shalat. Tidak masuk akal memang. Komunikasi yang mungkin popular saat ini adalah ketika orang tua banyak melarang tapi tidak memberi solusi. Mau dibawa kemana anak-anak kita?

Rafi’ bin ‘Amru Al Ghifari bersaksi bahwa Rasulullah bisa berkomunikasi yang patut kepada anak/remaja. Rafi adalah remaja nakal saat itu. Dia mengatakan, “Dahulu aku dan anak muda sebayaku sering melempari pohon kurma milik orang-orang Anshar. Maka hal itu dilaporkan kepada Rasulullah, ‘Ada anak yang suka melempari pohon kurma kami.’ Akhirnya, aku dibawa menghadap Rasulullah dan beliau bertanya, ‘Nak, mengapa engkau melempari pohon kurma?’ Aku menjawab, ‘Untuk saya makan buahnya.’ Beliau bersabda, ‘Kamu jangan lagi melempari pohon kurma, tapi makanlah buahnya yang jatuh di bawahnya.’ Selanjutnya, beliau mengusap kepalaku seraya berdoa, ‘Ya Allah, kenyangkanlah perutnya’.”

Tidak seharusnya melabeli anak dengan sesuatu yang buruk. Pertanyaan Rasulullah kepada Rafi’ jelas, “mengapa engkau melempari pohon kurma?”, bukan pertanyaan “mengapa engkau mencuri pohon kurma?”. Bedanya adalah pertanyaan kedua sudah melabeli anak sebagai pencuri. Dan indahnya, Rasulullah bisa memberikan solusi seraya mendoakannya. Rasulullah memang teladan yang sempurna.

Cerita dari seseorang, ada anak yang akrab disapa Fatih, kelas 2 SD yang selalu rajin dan tiba awal waktu ketika akan dikumandangkan adzan shubuh di suatu masjid di Jakarta. Memang, dia anak salah satu marbot masjid tersebut.

Pada suatu kesempatan, ada seorang lelaki yang terkagum dengan Fatih. Jarang sekali anak kecil pagi-pagi shubuh sudah nongol mendahului yang lain. Apalagi, saat ditemui Fatih sedang sibuk berdzikir. Sesegera akan didirikan shalat shubuh, imam shalat meluruskan shaf dan mengingatkan bahwa makmum anak-anak harus berada di shaf belakang. Fatih tidak terima karena dia datang paling dulu bersama bapaknya. Akhirnya, lelaki itu meminta ijin kepada jamaah agar Fatih berada di sampingnya di shaf paling depan. Bahagia sekali Fatih, karena baru kali ini dia bisa shalat di shaf depan.

Hingga selesai shalat, lelaki tersebut bertanya kepada Fatih, “Fatih, senang ga shalat di shaf paling depan?”. “Senang, karena ACnya adem”. 😀 ternyata alasannya itu…

Fatih juga bilang kalau dia ingin menemani imam pada shubuh esoknya. Lelaki itu dengan lembut mengusap kepalanya dan mengatakan, “Fatih, kenapa pengen menemani imam?”. Jawab Fatih, “aku pengen aja”. Jiaaah, “Oke deh, besok kakak usahakan agar Fatih bisa menemai imam di depan, semoga diijinkan ya”.

Esoknya, sang imam tidak hadir dan lelaki tersebut yang bertugas menggantikan imam karena imam yang seharusnya sakit perut. Mungkin Allah mengabulkan doa Fatih. Akhirnya, ia meminta ijin kepada jamaah agar Fatih boleh menemaninya di depan. Alhamdulillah, jamaah mengijinkan.

Selesai shalat dan dzikir, lelaki tersebut menanyakan lagi kepada Fatih, “Fatih senang ga, bisa menemani kakak di depan”. “Seneng banget Kak, ACnya lebih adem lagi kalau di depan”. Gubrak!!! Hahaha. Ternyata Fatih tidak puas hanya menemani imam, katanya “Fatih mo jadi imam shubuh besok!”. “Aku harus bilang WOW gitu?”, mungkin itu bisikan hati sang lelaki. 😀

“Fatih, pada jaman Rasulullah dulu, Amr bin Salamah ra baru 7 tahun sudah jadi imam. Jadi boleh-boleh saja, Fatih jadi imam. Tapi, imam di masjid sini minimal hafalannya 5 juz. Fatih sudah hafal berapa juz?”, mencoba menjelaskan. “Hafalanku masih sedikit kak”, katanya. “Ya, Fatih kudu ngapalin dulu minimal 5 juz baru deh jadi Imam, setuju?”. “Setuju banget kak, aku mau ngapalin 5 juz!”, janjinya.

Ternyata setelah saat ini dia kelas 4, Fatih sudah hafal 4,5 juz. Dia semangat 45. Apakah sebentar lagi Fatih jadi imam shalat di masjid itu? Kita tunggu kabarnya! Ternyata, memang anak tidak boleh langsung kita tolak dan kita larang keinginannya, yang bagi kita tidak mungkin dilakukan, hingga komunikasi kita jadi tak patut. Mungkin saja, kita yang kurang sabar untuk mengeksplor keinginan anak yang sesungguhnya sangat mulia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 2, 2012 by in Uncategorized.

Twitter

The Big DayAugust 24th, 2019
The big day is here.

Ya Allah…

Jadikan langkah-langkah hidup kami menjadi bagian dari perjalanan kami menuju surga-Mu

"Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (TQS. Al An'am (6): 162)

December 2012
M T W T F S S
« Nov   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 197 other followers

%d bloggers like this: