What's Up!!!

@miniblora

Agar bisa memimpin perasaan

emosi -geghans-

Ibu yang baru aku kenal itu dengan begitu serius memandangku. Beliau membelai tanganku. Seperti seorang ibu yang tak ingin kehilangan anaknya yang akan pergi jauh. Tanyanya, ”Mb, sudah bisa seperti yang dikatakan Ustadz?”. Suaranya sangat lembut dan sangat hati-hati, seperti ingin mencurahkan isi hati dengan sejujur-jujurnya pada seorang sahabat karib. Aku hanya tersenyum. ”Saya belum bisa Mb”, lanjutnya menjawab pertanyaan sendiri. ”Iya bu, sungguh. Saya masih jauh. Tapi saya ingin sekali bisa ta’dhim dengan sebenarnya”. Beliau membalas dengan senyuman.

Sungguh ta’dhim yang berarti mengagungkan Allah, sebenarnya adalah perasaan standar yang harus ada dalam diri kita. Artinya, diri kita bermakmum kepada Allah, tidak ada sesuatupun yang memiliki keagungan yang melebihi keagunganNya.

Gambaran yang lebih mudah, misalnya kita tidak sholat jama’ah padahal di dekat kita ada jama’ah dengan imam yang sholeh, bacaan bagus, dan ’alim. Aneh bukan? Kita memilih tidak bermakmum kepadanya. Padahal jelas, imam sholeh dan kita tau bagaimana keutamaan Jama’ah dibanding shalat sendiri.

Ta’dhim adalah realita hidup yang mengantarkan manusia merasa hina, rendah, miskin, tak berdaya di hadapan keagungan Allah Ta’ala. Sudahkah kita merasa demikian? Hanya diri masing-masing yang bisa menjawabnya.

Bagaimana menta’dhimkan Allah? Salah satunya, kita periksa perasaan kita. Jika perasaan adalah ungkapan jiwa yang terungkap lewat bahasa raga, maka orang yang cerdas maka sikap dan perasaannya akan berbeda jika dihadapkan pada keadaan yang berbeda.

Lalu bagaimana cara mencerdaskan perasaan? Salah satunya adalah dengan membaca Al Quran sesuai dengan kandungan yang ada di dalamnya. Ketika membaca neraka maka kita takut dan jika membaca surga kita bahagia dan sangat ingin mendapatkannya. Oleh karenanya, sungguh, diperlukan pemahaman akan arti ayat Al Quran. Seringnya, kita membaca Al Quran datar-datar saja. Tapi tak mengapa. Kita bisa membaca terjemahan dan tafsirnya jika belum memungkinkan untuk memahami secara langsung. Dan insyaAllah, jika diniatkan ibadah kepada Allah, semoga termasuk ibadah dan bernilai pahala.

Perasaan ini bisa diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya meski sang anak masih dalam kandungan, yaitu dengan memperbanyak bacaan Al Quran, menjelaskan kandungan Al Quran tentang surga, dan lain-lain. Itu lebih mudah dilakukan dibanding memberikan pelajaran ketika sudah lahir apalagi sudah besar. Meski hanya untuk menyuruhnya sholat sebagai sebuah kewajiban, orang tua bisa saja mengalami kesulitan karena ibu memiliki kedekatan perasaan yang lebih dibanding ayah. << Ini ada hadits/penjelasan ilmiah ga ya? 😕

Perasaan kita diibaratkan pohon-pohon kecil yang kita tanam di hati kita. Suatu saat ia akan membesar, berbunga dan memberikan buahnya untuk kita. Sebagian kita akan merasakan lezat manisnya perasaan kita. Senang, sedih, benci, rindu, cinta, itu semua adalah sebuah kenikmatan, dengan syarat kita bisa bersahabat dengan perasaan kita sendiri.

Tidak menyenangkan jika harus bermusuhan dengan perasaan sendiri. Uang hilang langsung sedih, dimaki sedih. Tidak ada yang disikapi dengan kenikmatan. Oleh karena itu, kita harus bisa memimpin perasaan, bagaimana agar perasaan menjadi kawan. Seseorang yang tidak punya uang tetap senang sebab ia punya kesempatan untuk berpuasa.

Bagaimana mengelola perasaan? Jika hidup manusia bagai sholat berjama’ah, ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Jika seorang imam sholatnya tidak sah, maka makmumnya juga tidak sah. Begitulah pentingnya seorang pemimpin. Oleh karena itu, hidup ini akan dinyatakan sah manakala dipimpin oleh imam yang sah. Siapakah imam hidup kita? Imam hidup kita adalah Allah. Caranya adalah dengan mengikuti Al Quran, sedangkan makmumnya adalah perasaan-perasaan yang selalu hadir menyelimuti hati kita. Perasaan kita dikatakan bermakmum kepada Allah manakala seluruh perasaan kita sepi dan sunyi dari segala pengaruh makhluk. Kita boleh saja sedih karena kehilangan uang karena dengan uang hilang maka hilang kesempatan bershadaqah. Kita harus bisa memimpin perasaan, akan tetapi dunia bukanlah segalanya. Karena mati-matian kita mencari dunia, sampai matipun kita tidak akan pernah memilikinya. Jadi, kita harus tau bagaimana agar dunia yang kita miliki menjadi jalan menuju akhirat/ladang kebaikan.

Ya Allah…

Alangkah Maha Agung, Maha Besar, Maha Kuasa Engkau, dan alangkah lemah, kecil, kerdil, dan tidak berdayanya kami…

Sadarkan kami selalu bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini tercipta karena Kuasa dan KehendakMu…
Buatlah kami selalu ridha pada semua ketentuanMu. Kami selalu berhuznudhan kepadaMu…
Agar kami menjadikan ridhaMu sebagai satu-satunya cita-cita dan tujuan hidup. Berharap hanya kepadaMu…
Tunduk dan patuh kepada ketentuanMu…

Tiba-tiba, malam sepulang mendapatkan siraman ruhiyah dari Ustadz, aku mimpi aneh…

Aku melewati masjid. Aku berkeinginan wudlu dan sholat di sana. Tetapi ada seseorang yang aneh. Selalu memandangku tak karuan. Ia membuatku takut. Aku berlari tunggang langgang segera meninggalkan masjid itu dan mencari masjid lain. Akhirnya, aku sholat di sana. Kemudian aku meneruskan perjalanan sampai aku terperangkap dalam jurang. Aku berusaha memanggil orang-orang di sekitar jurang. Aku meminta tolong karena aku tak ingin mati sia-sia masuk jurang. Untungnya ada dua adik-adik lewat. Ia melihatku dan akhirnya membantuku naik ke atas. Aku berada di pesawahan.

Setelah itu, seorang ibu yang berada tak jauh dari aku berdiri bersama adik-adik tadi. Mereka berembug. Adik-adik tadi menyerahkan aku kepada ibu tadi. Mungkin adik-adik berpikir, ibu tadi bisa membantuku, memberi masukan apa yang harus kulakukan di tempat yang asing bagiku. Tiba-tiba ia mengatakan kepadaku, ”Lebih baik, mb menikah”. Wagh! Betapa kagetnya aku saat itu. Aku bertanya apa alasannya. Ibu tadi menjawab bla bla bla. Seolah-olah ibu itu mengetahui keadaanku. Aku bertanya dalam hati, ”Dari mana ibu itu tau keadaanku?”. ”Maaf, saya belum siap…bla…bla…bla…”,jawabku.

Ah, namanya juga mimpi…

Yang bikin aku pengen ketawa saat teringat bahwa dalam mimpi itu ada dosenku. Loh! Mungkin dosen itu wajahnya yang paling jelas dalam mimpiku. Yang lain, lupa, atau tidak pernah liat. Perasaan, aku diajar bapaknya sekali doang. Dia merekomendasikan seseorang untuk menikah denganku. Sepertinya ini hasil rembugan pak dosen dan ibu tadi.

Perkataan dosen membuatku geli. ”Siapa tau dia beruntung mendapatkanmu atau kamu beruntung mendapatkannya atau sama-sama beruntung”. Ditambah dosenku agak ketawa. ”Apalagi kamu bla…bla…bla…. ”. Ditambah, katanya, ikhwan yang ia rekomendasikan adalah ikhwan sholeh. ”Segera kirim biodata”, tegasnya. *Tambah kaget.

Sepertinya aku terinspirasi kajian tadi. Dimana tujuan hidup adalah mencari ridha Allah. Sehingga jawabanku begitu lantang kepada pak dosen dan ibu tadi, ”Menikah bukan tujuan, tetapi washilah untuk mendapat ridha Allah. Aku tak ingin salah bertindak. Boleh, akan saya pertimbangkan”.

Terbangun…! Hahaha

Sepertinya aku telah mengamalkan tausiyah ustadz dalam mimpiku. Hehe…

Jika mimpi dibedakan menjadi tiga, yakni mimpi dari Allah. Mimpi dari syetan, mimpi karena keinginan jiwa, maka mimpiku mungkin karena keinginan jiwa. Karena sebelumnya aku mendapatkan tausiyah tersebut yang masya Allah aku sangat bersemangat mentrasnfernya kepada adikku. 😛

Herannya, sering banget ngamalin kajian dalam mimpi. Kemana yang nyatanya? 😀 Lah kenapa juga aku inget mimpinya? 😀

*HAHAHA… TULISAN YANG LUCU JAMAN DULU ~~~ 18 06 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 24, 2012 by in Uncategorized.

Twitter

The Big DayAugust 24th, 2019
The big day is here.

Ya Allah…

Jadikan langkah-langkah hidup kami menjadi bagian dari perjalanan kami menuju surga-Mu

"Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (TQS. Al An'am (6): 162)

November 2012
M T W T F S S
« Apr   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 197 other followers

%d bloggers like this: