Feeds:
Posts
Comments

(By Ustadz Syatori)

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-Mu dalam keadaan ridha dan diridha. Maka masuklah bersama hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr:27-30).
Kalau kita pikir, sebenarnya kita sendirilah yang membuat jalan menuju surge itu menjadi susah. Kita yakin bahwa sabar adalah salah satu jalan menuju surge. Tetapi kita ditanya apakah kita bersabar dengan kesusahan yang dating, tak jarang yang menjawab susah. Kalau banyak jalan menuju surga mengapa susah-susah mencari jalan menuju ke Negara?
Ya Allah, jadikan langkah-langkah hidup kami menjadi bagian dari perjalanankami menuju surga-Mu. Setiap langkah hidup kita adalah peristiwa yang tergores menjadi sejarah hidup. Amin.
Karena setiap peristiwa adalah bagian dari perjalanan kita menuju neraka atau menuju surga.
Empat golongan dalam perjalanan ke surga atau neraka:
1) Bisa jadi perjalanan kita menuju surga dipenuhi taburan bunga-bunga indah menyenangkan.
2) Bisa pula jalan kita menuju surga adalah jalan yang tidak menyenangkan. Kita harus melewatinya penuh perjuangan dan pengorbanan.
Tapi kita harus meyakini bahwa kesusahan hidup di dunia tidak akan pernah lama. 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, dst untuk kebahagiaan akhirat yang abadi.
3) Ada perjalanan ke nerakanya bertaburkan bunga-bunga keindahan.
4) Sebagian yang lain menjumpai perjalanan ke nerakanya dipenuhi jurang merintang yang tidak menyenangkan. 
Bukalah mata, agar kita selalu menemukan jalan menuju ke surga.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Al Fushshilat: 34).
Jalan menuju surga hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang nafsunya sudah muthmainnah. 
Siapakah nafsu muthmainnah itu?
1) Nafsu yang mengimani pertemuan dengan Allah agar pertemuan denganNya mengesankan.
2) Takut kepada Allah dengan senantiasa mendekatkan diri kepadaNya.
3) Ridha terhadap semua ketentuan Allah.
4) Merasa cukup dengan semua pemberian Allah (Qana’ah)
5) Merasa tenang karena percaya dengan jaminan Allah.
6) Selalu merasa diawasi oleh Allah.
7) Cemas kalau sampai Allah melihat dia sedang dalam keadaan yang tidak disukaiNya.
8) Selalu berupaya menambah tingkat kedekatan dengan Allah.
9) Jujur pasrah kepada Allah.
10) Bersegera memenuhi apa yang diperintah Allah dan RasulNya.

Kita sering merasa jenuh dan bosan mendengarkan ceramah atau kajian. Karena kita sudah sering mendapatkan materi yang disampaikan. Tidakkah kita butuh diingatkan? Kalau kita merasa tidak perlu diingatkan, generasi sesudah kita perlu pengingatan. Demikian juga Ramadhan. Kita sangatlah membutuhkan pengingatan. Pengingatan akan keutamaan dan kemuliaannya agar kita bisa menjalani Ramadhan lebih dan lebih baik lagi dan untuk memperbaiki kelalaian akan Ramadhan yang lalu. Mungkin kita tidak mencapai target minimal membaca Al Quran 3 kali khatam, sholat lail, hafalan, dsb pada Ramadhan tahun-tahun yang lalu. Diri kita lah yang tau penyebabnya sehingga Ramadhan kali ini bisa lebih baik lagi.

Sayyid Quthb menuliskan tentang Rasulullah dalam Fi Zhilaal Al Quran, “Rasulullah adalah seorang yang mengingatkan. Ia harus mengingatkan dan terus menerus mengingatkan meskipun berhadapan dengan orang yang menolak dan mendustainya. Itu karena peringatan bermanfaat bagi orang beriman dan tidak bermanfaat bagi selain mereka, yakni orang-orang yang menentang Allah. Pengingatan adalah tugas utusan Allah, sementara apakah orang yang kemudian menerima atau sesat, itu di luar dari tugas Rasul.”
Jika kita masih ingat Ramadhan, mungkin orang lain ada yang lupa. Itulah fungsinya pengingatan.

Ingatlah salah satu firman Allah SWT di bawah ini:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah :183)

Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk berpuasa. Masih berimankah kita? Ini adalah peringatan agar kita senantiasa menguatkan iman dan lebih beriman lagi. Dan bagi yang beriman diingatkan untuk menjalankan kewajiban berpuasa.

Usia kita bertambah satu tahun, kita lebih dewasa, cara berpikir kita lebih matang dan perencanaan masa depan dunia akhirat pun semakin matang dan rapi. Kondisi, tingkat keimanan, tingkat kemungkaran, semangat dan suasana yang berbeda dari tahun sebelumnya. Dan satu hal lagi pengingatan. Kemenangan apa saja yang akan kita ukir pada Ramadhan kali ini? Di Ramadhan 1430 H. Kita pastinya ingin mendapatkan Lailatul Qadar dan derajat taqwa. Tertarik dengan banyak hal yang ditawarkan di bulan Ramadhan dan kita tidak ingin membiarkannya lewat begitu saja.

Telah banyak sejarah kemenangan yang telah terukir di Bulan Ramadhan. Sebelum terlambat. Adalah lebih baik kita menyiapkannya lebih matang. Target-target yang ingin kita capai bisa kita tulis di sebuah buku khusus Ramadhan. Amalan-amalan apa saja yang akan dilakukan. Buku tersebut bisa digunakan sebagai bahan evaluasi selama Ramadhan. Tentang sejarah yang akan kita ukir di Ramadhan kali ini. Sehingga Ramadhan kali ini bisa kita MENANGKAN!

We are what we think

Kita sering merasa puas ketika mendapatkan apa yang kita inginkan.. Terlarut di dalamnya hingga terhentilah keinginan untuk memberikan karya yang lebih dari itu. Ataukah sebaliknya? Merasa potensi yang kurang. Mau infaq tidak ada uang, mengeluh. Mau sholat jama’ah ke masjid, jauh. Mau ikut kajian, sibuk. Mau nglanjut sekolah, kayaknya otak dipakai mikir susah. Jangan sedih kawan. Kesempatan masih banyak.

Setiap kita ada tantangan tersendiri. Mau berhenti berjuang atau maju terus. Allah telah menyiapkan kunci kesuksesan, tergantung kita mau berjalan mengambilnya atau tidak. We are what we think. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Yakinlah bahwa kita bisa berkontribusi dan memberikan karya besar dengan melakukannya terus-menerus menggunakan potensi yang Allah berikan pada diri kita. Sadar atau tidak bahwa ladang kebaikan itu sangat luas di depan mata kita. ”Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang berkesinambungan walaupun hanya sedikit.” (HR. Muslim). We are our contributions. Kita adalah kontribusi kita. Kita adalah sejarah yang kita ciptakan.

Berawal dari keinginan melakukan kebaikan dan tetap konsisten mengamalkannya. Semoga kita mendapat ridlo Allah dan keberkahan hidup. Bergembiralah kawan dengan surga yang telah Allah janjikan jika kita bisa istiqomah di jalan dakwah ini, melakukan perbaikan, kebaikan, menyempurnakan usaha dan doa sampai akhir hayat. Mendapatkan indahnya husnul khatimah. Amin.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!